Dolar AS Menguat Tiga Hari Beruntun, EUR/USD Tertekan oleh Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah

Dolar Amerika Serikat (USD) kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut seiring memudarnya harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Sentimen pasar berubah setelah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global, terutama terkait potensi pemblokiran Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak Brent dan WTI, sekaligus memberi tekanan besar pada kawasan Euro yang sangat bergantung pada impor energi. Akibatnya, pasangan mata uang EUR/USD mulai mengalami pelemahan.


Harga Minyak Naik Jadi Beban Besar bagi Euro

Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang menekan Euro karena memperburuk neraca perdagangan kawasan eurozone. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi membuat lonjakan harga minyak langsung berdampak pada biaya ekonomi kawasan tersebut.

Meski sepanjang April EUR/USD sempat menguat dan bahkan menembus level 1.18 pada pekan lalu, penguatan itu didorong oleh optimisme pasar terhadap kemungkinan negosiasi damai yang cepat dan pemulihan aktivitas bisnis global.

Namun, setelah negosiasi dinilai menemui jalan buntu, tekanan kembali muncul dan Euro kehilangan momentumnya.


Jerman Pangkas Proyeksi Ekonomi 2026

Tekanan terhadap Euro semakin besar setelah Jerman memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2026.

Sebelumnya, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan mencapai 1%, namun kini dipangkas menjadi hanya 0,5%. Revisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi Eropa akan lebih terdampak oleh gejolak energi dibandingkan Amerika Serikat.


Reli S&P 500 Perkuat Dolar AS

Penguatan cepat indeks S&P 500 juga menjadi faktor yang mendukung Dolar AS. Indeks saham utama Amerika tersebut berhasil mencetak rekor tertinggi baru berkat aksi beli agresif investor ritel dan ekspektasi kuat terhadap laba perusahaan.

Pasar menilai ekonomi AS akan lebih tahan terhadap dampak penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak dibandingkan ekonomi Eropa.

Kondisi ini memunculkan kembali narasi American Exceptionalism, di mana investor melihat ekonomi Amerika Serikat lebih kuat dibandingkan negara lain, sehingga mendukung penguatan Dolar AS dan pasar saham secara bersamaan.


Permintaan Global terhadap Dolar AS Meningkat

Selain faktor ekonomi, Dolar AS juga mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan global sebagai alat pembayaran internasional.

Data dari Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa pangsa Greenback dalam transaksi pembayaran internasional pada bulan Maret kembali naik ke level tertinggi sejak 2023, mencapai lebih dari 51,1%.

Kenaikan ini diperkirakan dipengaruhi oleh kebijakan AS yang melonggarkan sanksi terhadap Rusia dan Iran untuk membantu stabilisasi pasar minyak, serta meningkatnya ketidakpercayaan terhadap mata uang regional di tengah ketegangan geopolitik.


Penguatan Dolar Tekan Harga Emas

Kuatnya Dolar AS juga memberikan tekanan pada harga emas. Logam mulia sebelumnya sempat naik pada awal April karena pasar berharap konflik Timur Tengah mulai mereda dan harga minyak bisa turun.

Namun, hingga saat ini belum ada sinyal jelas bahwa konflik akan segera berakhir. Investor kini memperkirakan bahwa tingginya inflasi akibat lonjakan energi dapat memaksa bank sentral untuk mempertahankan bahkan memperketat kebijakan moneter.

Kondisi tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai mulai berkurang, sementara Dolar AS tetap menjadi pilihan utama pasar.

By Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *