Brent ditutup turun 1,1% ke US$103,60 per barel pada 3 November 2026, di dekat level terendah empat pekan, setelah bergerak dalam rentang US$101,54–106,60 akibat laporan serangan AS di Pulau Qeshm dan sinyal campuran perundingan dengan Iran. Resistance terdekat berada di US$106,60, sedangkan support di US$100.
WTI ditutup turun 0,4% ke US$96,09.

Apa yang Terjadi pada 3 November?
Brent naik di awal sesi Asia ke US$105,25 setelah Wall Street Journal melaporkan serangan AS di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz. Harga sempat mencapai US$106,60, lalu turun sekitar 3% ke US$101,54 karena rumor kemajuan perundingan, sebelum ditutup di US$103,60.
Bagaimana Struktur Harga?

Brent anjlok 7,63% pada 2 November dan menembus US$110, mematahkan struktur naik Oktober. Level US$110 kini menjadi resistance kuat. Selama di bawah US$106,60, tekanan cenderung turun. Analisis WTI sebelumnya ada di analisis WTI 3 November 2026.
| Level | Jenis | Catatan |
|---|---|---|
| US$110 | Resistance | Bekas support |
| US$106,60 | Resistance | Puncak 3 November |
| US$103,60 | Harga | Penutupan 3 November |
| US$100 | Support | Psikologis |
| US$96 | Support | Lanjutan |
Mengapa Harga Tertekan?
Ekspor minyak produsen Teluk naik sekitar 10% bulan lalu menjadi lebih dari 15 juta barel per hari, dan indikator pasar fisik melemah. Pasokan yang tetap mengalir menahan kenaikan harga meski risiko geopolitik masih ada.
Berapa Nilai Wajar?
Ryan McKay dari TD Securities menilai nilai wajar Brent berada di kisaran US$90–100 per barel, dengan potensi kenaikan dari premi risiko selama konflik berlanjut. Artinya, harga saat ini masih mengandung premi geopolitik.
Bagaimana Dampak ke Mata Uang?
Dolar Kanada dan krone Norwegia sering bergerak searah dengan minyak. Penurunan minyak cenderung menekan kedua mata uang itu. Bagi importir minyak seperti Jepang dan Indonesia, minyak yang turun mengurangi kebutuhan dolar untuk impor energi.
Skenario Turun
Penutupan di bawah US$100 membuka ruang menuju US$96 dan kisaran nilai wajar. Skenario ini lebih mungkin jika perundingan AS–Iran menunjukkan kemajuan nyata.
Skenario Naik
Penembusan di atas US$106,60 membuka jalan ke US$110. Skenario ini lebih mungkin jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat atau pasokan terganggu.
Bagaimana Peran OPEC+?
OPEC+ mempertahankan produksi hingga Desember. Jika Brent terus turun mendekati US$100, sebagian anggota bisa mendorong pemotongan produksi.
Bagaimana Volatilitas Minyak?
Brent bergerak lebih dari US$5 dalam sehari pada 3 November dan lebih dari 7% pada 2 November. Volatilitas ini menuntut stop yang lebih lebar dan ukuran posisi yang lebih kecil.
Bagaimana Posisi Selat Hormuz?
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Setiap kabar serangan di sekitar selat langsung menaikkan premi risiko. Pulau Qeshm berada dekat jalur pelayaran tersebut, sehingga laporan serangan di sana cepat memicu kenaikan harga.
Bagaimana Selisih Brent dan WTI?
Selisih Brent dan WTI sekitar US$7,5 per barel, lebih sempit dibanding akhir Oktober yang sempat di atas US$12. Penyempitan terjadi karena Brent lebih sensitif terhadap risiko Timur Tengah dan turun lebih dalam.
Bagaimana Permintaan Tiongkok?
Tiongkok adalah importir minyak terbesar dunia. PMI resmi yang turun ke 49,3 pada Oktober menunjukkan aktivitas manufaktur menyusut, yang bisa menekan permintaan. Namun, pembelian untuk cadangan strategis saat harga turun bisa menahan penurunan.
Bagaimana Rencana Trading?
Untuk posisi jual, tunggu penolakan di US$106,60 dengan stop di atas US$108 dan target US$100. Untuk posisi beli, tunggu pantulan di US$100 dengan stop di bawah US$98 dan target US$106. Volatilitas tinggi menuntut ukuran posisi kecil.
Bagaimana Dampak ke Inflasi?
Harga minyak yang turun dari di atas US$113 pada 30 Oktober ke sekitar US$103 bisa mengurangi tekanan inflasi energi dalam beberapa bulan. Bagi bank sentral, ini memberi sedikit ruang, tetapi inflasi inti yang tinggi tetap menjadi perhatian utama.
Bagaimana Dampak ke Rupiah?
Indonesia adalah importir bersih minyak. Minyak yang lebih murah mengurangi kebutuhan dolar untuk impor energi dan beban subsidi, sehingga secara bertahap mendukung rupiah.
Apa yang Perlu Dipantau?
- Perkembangan perundingan AS–Iran.
- Keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
- Data persediaan minyak AS dari EIA.
- Pernyataan OPEC+.
Analisis lain di kategori Forex Analysis. Data resmi di U.S. Energy Information Administration.
Analisis ini bersifat informasi, bukan rekomendasi transaksi. Trading forex memakai leverage dan berisiko tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa Brent pada 3 November 2026?
Ditutup US$103,60 per barel, turun 1,1%.
Apa resistance terdekat Brent?
US$106,60, lalu US$110.
Apa support terdekat?
US$100, lalu US$96.
Berapa nilai wajar Brent menurut TD Securities?
Sekitar US$90–100 per barel.
Mata uang apa yang terpengaruh minyak?
Dolar Kanada dan krone Norwegia cenderung bergerak searah dengan minyak.
